وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا
لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا
تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الأرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا
أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا
وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا
Dan mereka berkata: “Tuhan yang Maha Pemurah mengambil anak”. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan suatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh karena mereka mendakwa Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak. Maryam 19.88-92
Al-Quran mengutuk dengan istilah paling keras gagasan bahwa Allah memperanakkan seorang anak. Dan kutuk itu menggema di seluruh Al-Quran. Selain dari ayat yang telah disebutkan diatas, kita dapat melihat ayat-ayat serupa di: Al-Baqara 2.116, An-Nisa 4.171, Al-Anaam 6.101, Yunus 10.68, Al-Isra 17:111, Al-Kahf 18.4, Maryam 19.35, Al-Anbiya 21.26, Al-Mumenoon 23.91, Al-Furqan 25.2, Az-Zumar 39.4, Az-Zukhruf 43.81, Al-Jinn 72.3, Al-Ikhlas 112.3.
Namun siapapun yang membaca Alkitab akan segera melihat bahwa Allah memperanakkan seorang anak, yang merupakan salah satu pesan terpenting di dalam Injil. Bahkan, Dia bukan hanya memiliki seorang anak, Dia juga memiliki banyak anak laki-laki dan perempuan! Memanggil Allah ”Abba Bapa” sepertinya merupakan cara yang paling disenangi Isa untuk memanggil Allah, dan Isa mengajarkan kepada kita semua untuk memanggil-Nya dengan cara yang sama.
Bukankah ini suatu kontradiksi yang mustahil untuk diselesaikan? Bukankah kontradiksi ini yang memaksa kita untuk memilih salah satu dari yang lain? Apakah ini bukan bukti kalau Al-Quran mengutuk Alkitab? Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini adalah mutlak ‘tidak’! Dengan pemikiran yang mendalam, sikap yang tidak berprasangka buruk dan kerelaan untuk mempelajari bukti-bukti, akan menunjukkan kalau Alkitab dan Al-Quran menggunakan istilah ‘anak Allah’ dengan cara-cara yang sangat berbeda. Al-Quran tidak menyerang istilah ‘anak Allah’ sebagaimana digunakan di dalam Alkitab; yang diserang adalah cara istilah itu dipahami dan ditafsirkan oleh sebahagian orang. Untuk alasan inilah, pernyataan- pernyataan dalam Al-Quran seringkali dimulai dengan, “Mereka berkata”.
Ketika membaca ayat-ayat Al-Quran yang dicantumkan diatas, dan mengamati konteks-konteksnya, seseorang dapat langsung melihat bahwa tujuan utama dari Al-Quran adalah untuk melindungi Ketauhidan Allah. Ketauhidan Allah merupakan pesan terpenting dari Al-Quran, dan segala usaha untuk mempersekutukan Allah akan sangat dikutuk. Hanya ada satu Allah, dan tidak ada yang lain; tidak ada yang setara dengan-Nya dan tidak ada yang seperti Dia. Dan cara sebahagian orang menggunakan istilah ‘anak Allah’ terlihat seperti mengkompromikan Ketauhidan Allah, dan hal inilah yang dikutuk oleh Al-Quran. Al-Jinn 72.3 bahkan menyatakan tentang mengambil seorang istri, untuk memiliki seorang anak. Pemikiran inipun akan dikutuk juga oleh Alkitab sebagai sesuatu hal yang ‘mungkar’.
Ketika kita mengamati Alkitab, kita menemukan tujuan yang sama yaitu untuk melindungi Monoteisme:
Yesaya 45:5, Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah.
Yesaya 46:5, Kepada siapakah kamu hendak menyamakan Aku, hendak membandingkan dan mengumpamakan Aku, sehingga kami sama?
Yesaya 46:9, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku,
Ayat-ayat ini (diantara banyak ayat lainnya) menekankan dua hal: (1) Hanya ada satu Allah yang benar; tidak ada allah lain selain Dia; (2) Tidak ada yang seperti Dia, tidak ada yang setara dengan-Nya. Jadi pada dasarnya pesan yang sama seperti di dalam Al-Quran. Ketika Alkitab menggunakan istilah ‘anak Allah’ atau bahkan ‘anak-anak Allah’, istilah itu digunakan dengan tidak mengkompromikan Ketauhidan sama sekali.
Siapa saja yang disebut anak atau anak-anak Allah di dalam Alkitab?
1) Malaikat-malaikat Allah, Ayub 2:1, “Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datang juga Iblis untuk menghadap TUHAN.”
2) Manusia pertama, Adam, Lukas 3:38, “anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah.”
3) Bangsa Ibrani, Keluaran 4:22, “Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung;”
4) Raja-raja Israel, 2 Samuel 7:14, “Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku.” dan Mazmur 2:7, “Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.”
5) Di dalam Perjanjian Baru, semua orang percaya, Yohanes 1:12, “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;”
Tidak ada yang ‘mungkar‘ mengenai cara Alkitab menggunakan istilah “anak-anak Allah”! Tidak ada yang dipersekutukan dengan Allah. Dua poin pertama diatas berkenaan dengan penciptaan. Para malaikat dan Adam disebut ‘anak-anak Allah’ karena mereka mendapatkan eksistensi mereka dari Allah. Tiga poin terakhir berkenaan dengan individu atau individu-individu yang dipilih Allah untuk mempunyai hubungan yang khusus dengan-Nya. Ini berarti Allah akan berhubungan dengan mereka layaknya seperti seorang Bapa.
Isa sebagai Anak Allah
Istilah “anak Allah” yang digunakan untuk Isa berasal dari poin no. 4). Mazmur 2:7 dikutip beberapa kali di dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk pada Isa. Dan kedua ayat Mazmur 2:7 dan 2 Samuel 7:14 dikutip di dalam satu ayat untuk menunjuk pada Isa di dalam Ibrani 1:15,
Ibrani 1:5, Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: ” ENGKAU LAH ANAK-KU! ENGKAU TELAH MENJADI ANAKKU PADA HARI INI?” dan “AKU AKAN MENJADI BAPA-NYA, DAN IA AKAN MENJADI ANAK-KU?”
Dengan kata lain, istilah ‘anak Allah’ yang digunakan untuk Isa bermaksud menjelaskan bahwa dia adalah Raja Israel yang akan datang, sang Mesias. Ini adalah gelar yang digunakan untuk sang Mesias. Dan frase “engkau telah menjadi anakku hari ini” yang diaplikasikan pada sang Mesias, menunjukkan dalam pengertian apa Isa disebut “satu-satunya anak” di dalam Yohanes 1:18.
Alkitab dalam hal ini sangat jelas menjelaskan bahwa istilah “anak Allah” merupakan gelar Mesianik untuk Raja Israel. Seperti contohnya:
Yohanes 1:49, Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”
Matius 27:41-43, Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata:, 42 “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya. 43 Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah.”
Markus 15:32, Baiklah Mesias, Raja Israel itu, turun dari salib itu, supaya kita lihat dan percaya.” Bahkan kedua orang yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela Dia juga.
Matius 16:16, Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”
Matius 26:63, Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.”
Markus 1:1, Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.
Lukas 4:41, Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: “Engkau adalah Anak Allah.” Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias.
Yohanes 11:27, Jawab Marta: “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.”
Yohanes 20:31, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.
Ayat-ayat diatas menunjukkan dengan kejelasan yang mutlak bahwa sang Mesias disebut ‘anak Allah’ berdasarkan perkataan “kamu adalah anak-Ku” di dalam Mazmur 2:7. Tanpa perlu disangsikan lagi istilah ‘anak Allah’ di dalam Injil berarti ‘Kristus’ atau ‘Mesias’, atau dalam bahasa Quranik ‘al-Masih’.
Sekali kita mengerti tentang gelar ‘anak Allah’ yang digunakan untuk Isa di dalam Alkitab merupakan sebuah gelar Mesianik, kita lalu menyadari kalau pengutukan oleh Al-Quran ditujukan untuk hal yang sama sekali berbeda. Alkitab menggunakan istilah ‘anak-(anak) Allah’ untuk mendeskripsikan tentang hubungan, terutama hubungan yang intim. Seperti contoh berikut ini:
Yohanes 3:35, “Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya.”
Yohanes 5:20, “Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri;”
Dengan kata lain, melalui pembelajaran pendek dan singkat ini tentang bagaimana istilah anak Allah digunakan di dalam Alkitab, terutama yang menunjuk pada Isa, seharusnya jelas bahwa sama sekali tidak ada sesuatupun yang perlu meresahkan kaum Muslim.
Pertanyaan yang timbul dari hal ini adalah: karena penggunaan istilah “anak Allah” di dalam Alkitab tidak dengan cara apapun mengkompromikan Ketauhidan, lalu apa atau siapa yang disangkal oleh Al-Quran? Yang disangkal adalah doktrin Tritunggal, dan pengikut-pengikut dari doktrin ini. Di abad ke-4 masehi, istilah “anak Allah” secara resmi berganti menjadi “Allah Anak”. Dan sejak saat itu di dalam pemikiran kebanyakan orang-orang Kristen istilah “anak Allah” dimengerti sebagai “Allah Anak”, seorang pribadi terpisah yang juga adalah Allah, dan di dalam segala aspek sama dan setara dengan “Allah Bapa”. Tidak dapat dipungkiri kalau doktrin telah mempersekutukan Allah, sesuatu yang dilarang Alkitab sendiri. Allah tidak lagi satu namun tiga. Beberapa bahkan pergi lebih jauh lagi dengan memanggil Maria “Bunda Allah”. Kalau Isa adalah Allah, jadi apa yang begitu salah dengan memanggil Maria sebagai “Bunda Allah?” Inilah doktrin yang ditentang oleh Al-Quran, dan benarlah demikian adanya.
Setelah mengamati pesan dari Al-Quran, beberapa sarjana mulai menyadari bahwa apabila orang-orang Kristen tidak salah dalam menafsirkan Alkitab dan menghasilkan doktrin Tritunggal, maka tidaklah perlu untuk Al-Quran diturunkan. Ada banyak kebenaran di dalam pernyataan ini. Al-Quran datang untuk mengoreksi apa yang salah dan untuk memberitakan kembali Monoteisme yang benar dari Alkitab Ibrani. Pengertian orang-orang Kristen akan “Anak Allah” sebagai “Allah Anak” adalah politeisme yang menyamar sebagai monoteisme, dan tidak ada suatu bayanganpun akan adanya pribadi semacam ini yang disebut “Allah Anak” di dalam Alkitab Perjanjian Lama, maupun Perjanjian Baru.
masuk akalku broooo…..
masukan buat sdr bintik debu ; rukun iman islam ada 6 , salah satunya jelas harus iman kitab2 Alloh …… Al Quran menerangkan ….zabur, taurat, injil dan Al Quran … sayangnya kita termasuk saya seolah olah tidak peduli dgn kitab lain selain Al Quran …jadi saya sangat berterima kasih pd anda dgn blog ini menambah iman dan ilmu saya . salam bahagia .
Thanks buat dorongannya! Yeap, tapi begitulah iklim keagamaan yang membesarkan kita semua, penuh antagonisme dan picik terhadap sesama, meskipun sama-sama keturunan Ibrahim! Perlu keberanian luarbiasa untuk membebaskan diri dari belenggu tradisi buatan manusia!
bintik debu yth ; tolong buat artikel yg mengacu pd keyakinan bahwa kita bangsa indonesia betul2 keturunan nabi Alloh Ibrahim menurut kitab2 Alloh dgn acuan sejarah yang kongkrit . maksudnya biar teman2 yang mengikuti blog anda sadar dan tidak tersesat dgn keyakinannya selama ini . thanks a lot . salam bahagia
ISA BUKAN ANAK ALLAH SECARA LAHIRIAH…….SAUDARA SANGAT DANGKAL MENILAI KEILAHIAN ISA (YESUS) …….ISA ADALAH PRIBADI ALLAH SENDIRI.
ADA 3 KEPRIBADIAN ALLAH DAN JANGAN SAUDARA PUNGKIRI BAHWA SETIAP ALLAH MERSABDA DI AQ SERING MEMAKAI KATA…….. KAMI ………KALO DALAM ALKITAB ALLAH MEMAKAI KATA KITA UNTUK MENJABARKAN 3 KEPRIBADIAN ALLAH YAITU (ALLAH, FIRMAN DAN ROH ALLAH). TAPI DALAM PERJANJIAN BARU KITAB YOHANES 1 DENGAN JELAS MENJELASKAN BAHWA FIRMAN YANG PADA MULANYA BERSAMA2 DENGAN ALLAH TELAH TURUN KE DUNIA DAN MENGAMBIL RUPA MANUSIA (Hadits Shahih Bukhari nomor 1496). MELALUI KEKUATAN ROH ALLAH LAHIR DARI PERAWAN MARIA- ( surat 4 An Nisaa ayat 171). SEHINGGA SECARA DAGING DIA MEMANGGIL ALLAH ADALAH BAPA NAMUN SEBENARNYA DIA TAU DIA DAN ALLAH ADALAH SATU………..DIA MENJALANI KEHIDUPAN SEBAGAI MANUSIA TIDAK BERDOSA SEUMUR HIDUPNYA (TIDAK KAWIN APALAGI PUNYA BANYAK ISTRI) (Hadits Shahih Bukhari 1493). HANYA SATU TUJUAN FIRMAN ALLAH TURUN SEBAGAI MANUSIA YESUS YAITU MATI DI KAYU SALIM SEBAGAI KORBAN YANG SULUNG MEMBATALKAN SELURUH KORBAN-KORBAN HEWAN SULUNG DI DUNIA YANG MASIH DILAKUKAN OLEH KAUM MUSLIM DAN YAHUDI………DAN SETELAH KEBANGKITAN DAGING, MANUSIA YESUS MENCAPAI TITIK KESEMPURNAAN KARENA MANUSIA PERTAMA DI DUNIA YANG BANGKIT DARI DUNIA ORANG MATI SEHINGGA MEMBATALKAN SEBUA KUTUK IBLIS (DUNIA ALAM KUBUR) DAN MENYEDIAKAN TEMPAT ALAM PENANTIAN SEMENTARA YAITU FIRDAUS BAGI SEMUA ORANG YANG PERCAYA KEPADANYA……….DAN YESUS TETAP SEBAGAI SIMBOL KORBAN YANG MENGINGATKAN HATI ALLAH AKAN KARYA PENYELAMATANNYA BAGI PENGAMPUNAN DOSA MANUSIA………
YESUS ADALAH ANAK ALLAH (BUKAN SECARA LAHIRIAH TETAPI KARENA DIA MENGAMBIL RUPA MANUSIA DAGING…….NAMUN SETELAH MANUSIA DAGING YESUS BANGKIT DARI KUBUR YESUS MEMILIKI KEUTUHAN DALAM KEILAHIAN ALLAH………DAN DIA MENGGAMBARKAN SEBUAH HUBUNGAN DENGAN SETIAP ORANG YANG PERCAYA KEPADANYA SEBAGAI MEMPELAI PEREMPUANNYA YANG BERHAK JUGA DISEBUT SEBAGAI ANAK-ANAK ALLAH….MAKANYA KAMI ORANG KRISTEN MEMANGGIL ALLAH SEBAGAI BAPA YANG BERHAK MEWARISI KERAJAAN ALLAH UNTUK SELAMA-LAMANYA……
.TAPI TENANG AJA DALAM ALKITAB ADA JUGA TERTULIS PENGHAKIMAN ALLAH JUGA MELALUI PENGHAKIMAN HATI NURANI JADI YANG NON KRISTEN BAIK MUSLIM, HINDU, BUDA SEMUA PADA AKHIRNYA AKAN SELAMAT JUGA KALO AMLNYA LEBIH BESAR DARI DOSA-DOSANYA……..JANGAN REPOT AYA AJAK DATANG PADA YESUS SAJA KAMU AKAN MEMILIKI FIRDAUS SEBUAH TEMPAT PENANTIAN DI SAMPING SORGA……..KALAU DI LUAR DARI YESUS BERARTI ANDA SEMUA AKAN DITAMPUNG DALAM DUNIA KUBUR DAN DIDOAKAN MUDAH-MUDAHAN SELAMAT. GBU
Salam Tanggapan Kristen: Saya mempercayai Injil sebagai Firman Allah, dan mempercayai segala sesuatu yang tertulis di dalamnya tanpa mempercayai adanya doktrin Trinitas di dalamnya secara tersirat maupun tersurat. Doktrin Trinitas tidak didukung satu ayatpun, dan tidak ada bayangan apapun tentang Trinitas dalam PL maupun PB. Umpamanya:
1) Pernyataan Anda, “Isa adalah pribadi Allah sendiri” merupakan pernyataan yang tidak dapat didukung oleh Alkitab. Andai saja ada pernyataan seperti itu, maka hal ini tidak perlu diperdebatkan. Dalam Injil yang dinyatakan dengan jelas adalah, Isa adalah gambar Allah (2Korintus 4:4). Oleh karena itu, “barangsiapa telah melihat Aku, dia telah melihat Bapa” (Yoh. 14:9). Gambar Allah bukan Allah! Dan dalam konteks Yohanes, kesatuan Bapa dan Anak itu (Yoh. 10:30) selalu dijelaskan Yesus dengan pernyataan ini, “Bapa di dalam Aku, Aku di dalam Bapa” (Yoh. 10:38, 14:10). Gambaran lain bagi Yesus dalam Injil Yohanes adalah sebagai Bait Allah (Yoh. 2:19) dan konsep ini ditekankan di seluruh Injil. Di PL, Yahweh tinggal di Bait Allah, dan umat Yahudi datang ke Bait Allah untuk menyembah Allah, bukan menyembah Baitnya! Pendek kata, Bait Allah bukan Allah. Bapa tinggal di dalam Yesus sebagai Bait-Nya yang bukan buatan tangan manusia, justru karena itu Yesus tidak mungkin Allah. Lagipula tujuan Injil Yohanes ditulis bukanlah untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Allah, tapi sebaliknya untuk membuktikan Isa adalah Al-Masih, Anak Allah! (Yohanes 20:31) Tidak dimanapun dalam Alkitab kepercayaan pada Yesus sebagai Allah diwajibkan untuk keselamatan. Tuntutan itu dipaksakan oleh tradisi gereja.
2) Jika Yesus adalah Allah, boleh tidak saya simpulkan bahwa Allah Anda adalah seorang manusia, dan Anda menyembah manusia? Bagaimana Anda menjelaskan “100% Allah, 100% manusia”? Ini kalimat yang tidak masuk akal dan tidak mungkin dijelaskan. Jika seseorang memiliki 1% Allah saja, dia tidak dapat disebut manusia dalam pengertian apapun! Konsep seperti ini berakar pada agama-agama Yunani dan Romawi pra-kekristenan yang mendewakan manusia-manusia yang disanjung. Trinitas lahir dari pengaruh agama Yunani kuno.
3) Anda bilang “Ada tiga kepribadian Allah”! Tiga pribadi berbeda yang sama-sama setara, sama-sama Allah. Bukankah ini politeisme yang menyamar sebagai monoteisme? Keluaran 20:1-4 melarang penyembahan pada siapapun selain Yahweh. Boleh saya tahu menurut Anda, yang mana satu yang bernama Yahweh? “Allah, Firman atau Roh Kudus”? Atau ketiga-tiganya juga bernama “Yahweh”? Ada tiga yang bernama Yahweh, atau salah satunya bernama Yahweh?
4) Memang benar Alkitab dan Al-Quran menggunakan kata “Kita” ketika Allah bersabda. Al-Quran jauh lebih sering dibandingkan dengan Alkitab. Ingat bahwa, Alkitab khususnya Alkitab Ibrani (PL) itu ditulis orang Yahudi dan dibaca orang Yahudi selama ratusan/ribuan tahun. Demikian pula Al-Quran ditulis dalam bahasa Arab dan dimiliki orang Muslim dan ayat-ayatnya dibacakan setiap hari. Tidak terlintaskan dipikiran kita untuk bertanya, “mengapa mereka tidak menarik kesimpulan yang kita tarik? Apakah persoalannya semudah yang kita pikirkan?”… Untuk pengetahuan Anda, para teolog (yg menganut Trinitas sekalipun) yang berpengetahuan luas khususnya dalam hal bahasa dan budaya, tidak lagi berani menggunakan argumen seperti ini (Kita, Elohim dll). Argumen ini sudah lama ditinggalkan oleh para pakar, karena dalam bahasa Semit (dan juga bahasa lain) ini memang cara berbicara yang lazim bagi seorang raja.
yee kalian ribet amat udah jelas…
Kalo ISA itu manusia biasa, seorang NABI yang dikaruniai mujijat seperti yang dipunyai nabi” lain..
dan Allah itu ya Tuhannya Nabi ISA….
kok susah amat bedainnya sih..
repott amat dahh -__-”
coba berpikir simple……
semua aturan itu simple……
sudah jangan sok tau akan TUHAN…
TUHAN itu bukan makhluk.. dia mengetahui segalanya…. jangan persepsikan DIA seperti manusia….
et dah….. -___-”
Jangan pisahkan Roh Allah dengan Allah… Kalo bicara nama Allah, Allahnya org yahudi itu Ellohim. Ttp krna penjelasan tata bahasa indonesia itu sempit maka di artikanlah Ellohim itu Allah. Yoh 1:1 udh jelas kok, bahwa firman itu ga terpisah dri Ellohim. Jadi kalo ttp ga ada yg mengakui Yesus sebagai Tuhan its ok.. Dia juga ga memaksa kok. Sembahlah yg kalian anggap bisa menyelamatkan diri kalioan dari siksa api neraka. Gbu
@haddy, namanya Allah orang Yahudi bukan Elohim, tapi Yahweh (YHWH). Yang diterjemahkan sebagai “TUHAN Allah” dalam Alkitab Indonesia dalam bahasa Ibrani ialah “Yahweh Elohim”. Kata “YHWH” muncul hampir 7000 kali dalam Alkitab Ibrani, sementara kata Elohim muncul hanya kira-kira 2600. Dan sebagian besar dari kata “Elohim” di Alkitab di pakai untuk merujuk kepada ilah-ilah lain yang disembah bangsa-bangsa bukan-Yahudi.
To, bintikdebu … penjelasan anda di atas sangat-sangatlah sempit dan dangkal tentang isi Alkitab sehingga apa yang anda tafsirkan secara akal budimu menjadi keliru. Alkitab tidak dapat ditafsirkan hanya dengan kekuatan akal semata-mata, karena isi dari Alkitab adalah Firman Tuhan maka untuk mengerti dan memahami Firman ALLAH itu harus dengan pertolongan dari ROH KUDUS, tidak dapat ditafsir-tafsir hanya dengan kekuatan akal manusia begitu saja karena akan menimbulkan perbedaan pendapat dan pertentangan tetapi jika itu berasal dari ALLAH sendiri lewat ilham dari ROH KUDUS maka akan mendatangkan damai sejahtera bagi yang membacanya…. tetapi sepertinya anda juga tidak percaya kepada ALLAH ROH KUDUS
@Lewi, Maaf, sudah hampir seperempat abad saya mempelajari Alkitab, belum pernah saya bertemu istilah “ALLAH ROH KUDUS”!!! Kalau Anda bisa menemukan istilah itu, silahkan beritahu saya ya? Saya masih ingin belajar… tapi jujur saja, saya tidak tahu bagaimana untuk belajar tanpa menggunakan akal budi. Apakah maksud Anda, ROH KUDUS akan menyatakan secara langsung kepada saya bahwa adanya ALLAH BAPA, ALLAH ANAK, ALLAH ROH KUDUS sekalipun Firman Allah tidak menyatakannya?
Baca Matius 28:19,
Sejak kehadiran pertama Yesus ditengah-tengah dunia ini, banyak orang mempersoalkan kehadiranNya, termasuk orang-orang Yahudi sendiri yang nota bene adalah bagian dari rencana karya penyelamatan Allah. Nah, ketika ada sebagian kecil orang mempersoalkan keilahian diri Yesus menurut kacamata akal budi mereka sendiri yang bukan karena pekerjaan Roh Kudus, maka sulitlah mereka untuk memahami siapa Yesus sebenarnya. Hal ini rupa-rupanya jauh sebelum Yesus terangkat ke Sorga, Ia telah mengingatkan murid-muridNya.Matius 24 : 9-10, 13-14″ Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku, dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan akan saling membenci. Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya”.
Hal ini menunjukkan bahwa sesudah kehadiran Yesus di dunia ini sebagai bagian dari karya penyelamatan Allah, akan banyak muncul nabi-nabi palsu yang pada intinya memberikan penyangkalan mengenai ke-Ilahian Yesus sebagai Anak Allah yang Tunggal. Dan dari semua nabi-nabi yang pernah muncul dimuka bumi ini, hanya Yesuslah yang berani mengatakan sebagai berikut: “Akulah jalan dan kebenaran dan Hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”. (Yoh. 14 6).
Oleh karena itu, bagi saudara-saudara yang telah menerima dan mengakui Yesus sebagai Juruslamat dunia, janganlah khawatir dengan berbagai bentuk penyangkalan tentang ke-Ilahian Yesus sebagai Juruslamat, Sebagai Anak Allah Yang Tunggal dan sebagai penyedian jalan keslamatan menuju kepada Bapa di Sorga. Soal ada yang meragukan kebenaran Alkitab dan kesaksian Injil Yesus Kristus, itu bukan persoalan orang Kristen. Karena pada akhirnya keslamatan akan ditentukan Allah pada hari penghakiman nanti. “Ketika kita telah mengakui dan menerima Yesus sebagai Jalan Keslamatan, maka berarti kita telah siap memikul Salib,dan menyangkal diri. Sebab apapun teori, argumentasi atau analisis dari berbagai para ahli, mereka tidak bisa membantahkan mengenai Yesus itu. sendiri. ” Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat”. Amin
@Luis, pendirian saya (dan semakin banyak yang lain) adalah bahwa seseorang bisa mempercayai setiap “kebenaran Alkitab dan kesaksian Injil Yesus Kristus” dan tidak meragukan apa-apapun yang tertulis di dalamnya, tanpa mempercayai keIlahian Yesus, atau doktrin Trinitas. Ayat yang Anda kutip Yoh. 14:6 sama sekali tidak membuktikan keilahian Yesus. “Jalan” adalah sarana dan wahana menuju “Destinasi”, dan bukan destinasi itu sendiri. Jadi Yesus adalah “jalan” menuju Allah, yang adalah Bapa. Pernyataaan itu notabene menyatakan Yesus bukan Allah, tapi jalan menuju Allah. Tidak ada petunjuk apapun dalam Injil Yesus Kristus dan surat-surat Paulus bahwa kita perlu mempercayai doktrin Trinitas atau keilahian Yesus untuk diselamatkan. Itu syarat yang “ditambahkan” oleh gereja tiga atau empat ratus tahun setelah kebangkitan dan pengangkatan Yesus. Anda cukup memberikan saya satu ayat untuk menyakinkan saya.