وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا
بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
Dan karena perkataan mereka: “Kami telah membunuh Isa Almasih putra Maryam, Utusan Allah”-padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi demikianlah ditampakkan kepada mereka. Dan mereka yang berselisih pendapat selalu dalam keraguan mengenai itu, tanpa didasari suatu pengetahuan selain dengan perkiraan saja, dan yang mereka bunuh tidak meyakinkan. Tetapi Allah telah mengangkatnya ke hadirat-Nya. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. An-Nisa 4.157-158
Ayat tunggal inilah yang paling sering digunakan bagi menyangkal kematian dan penyaliban Isa. Jika ayat ini memang menyangkal kematian dan penyaliban Isa, maka memang benar bahwa ada sebuah perbedaan yang tidak bisa diselaraskan di antara Injil dan Qur’an. Kalau begitu, satu daripadanya adalah benar dan yang satu lagi itu palsu, dan apa yang palsu itu tidak mungkin merupakan Firman Allah karena tidak mungkin bagi Allah untuk berbohong atau berdusta. Sayangnya, tafsiran Islami tradisional telah menjadikan Allah sebagai pengarang kebohongan. Dan dengan menafsirkan ayat ini seperti ini, bukan saja Al-Qur’an bertolak belakang dengan Injil, tetapi juga Al-Qur’an dengan Al-Qur’an sendiri. Al-Qur’an sendiri menyatakan berulang kali bahwa Isa wafat.
Selain dari bertentangan dengan Injil dan Al-Qur’an, pengertian tradisional ini juga bertolak belakang dengan fakta sejarah. Kematian dan penyaliban Isa adalah suatu kejadian umum, disaksikan oleh semua orang dan direkam oleh banyak orang sebagai fakta sejarah. Bagaimana bisa suatu pernyataan tunggal yang dibuat 600 tahun kemudian, di suatu tempat nun jauh dari tempat kejadian menyangkal kejadian historis ini? Apakah pernyataan seperti itu bisa mempunyai kredibilitas? Apakah yang akan Anda pikirkan tentang seseorang yang, 600 tahun dari sekarang, menyangkal bahwa John F. Kennedy pernah dibunuh? Sayang! Hal seperti memang terjadi. Baru-baru ini ada orang yang menyangkal bahwa Holocaust pernah terjadi, dan dia itu adalah presiden sebuah negara yang besar dan berintelek! Sepertinya tidak terlalu sulit untuk mengumpulkan banyak orang untuk mengikuti kebohongan. Fanatisme dan kebencian bisa menyebabkan orang banyak mempercayai apa saja meskipun tanpa bukti.
Selain itu, apakah kita juga mau mengatakan bahwa Matius, Markus, Lukas dan Yahya dan murid-murid al-Masih yang lain (yang juga sangat dihormati dan disanjungi di dalam Al-Qur’an) bersekongkol untuk merekayasa kejadian kematian Isa? Apakah motivasinya? Apakah tujuannya? Bagaimana mungkin pengikut Isa yang setia ini berkonspirasi untuk melakukan hal yang sekeji itu? Apa untungnya mereka berbuat seperti itu? Apakah tidak ada seorang pun dari pengikutnya yang benar dan berani angkat bicara? Dan tidak ada tanda-tanda apapun bahwa Al-Qur’an ada berbicara tentang hal-hal yang negatif tentang pengikut Isa. Semua ini tidak masuk akal! Tetapi, kebanyakan orang agamawi memang tidak dikenal sebagai orang yang berpikiran sehat.
Supaya Injil dan Al-Qur’an tidak menjadi bahan olokan, pertanyaannya adalah: Apakah ini satu-satunya cara untuk memahami ayat ini?
Jika pemahaman tentang Tritunggal telah menuntun banyak umat Nasrani sehingga menyimpang dari jalan yang lurus, dan oleh itu mereka menolak Al-Qur’an, maka bagi umat Muslim, kekeliruan dalam menafsikan ayat inilah yang telah membutakan mereka kepada kekayaan pusaka yang ada di dalam Injil. Jika Isa tidak disalibkan, maka memang adil kiranya Injil yang sekarang ini berada di tangan umat Nasrani itu ditolak karena sebagian besar dari Injil itu sendiri adalah tentang kematian Isa. Tetapi penolakan Al-Qur’an oleh umat Nasrani, dan penolakan Injil oleh umat Muslim, telah menjadikan kita semua lebih miskin secara rohani. Menjadi miskin secara rohani itu satu hal, tetapi jika kemiskinan kita itu menuntun kita kepada kebencian akan satu sama lain, ini merupakan suatu hal yang berbeda. Sangat penting untuk kita mempertimbangkan ulang apakah ada cara lain untuk memahami ayat ini, dan saya memohon kepada sebuah keterbukaan hati terhadap persoalan ini.
Saya sangat yakin bahwa ada cara lain untuk memahami ayat ini – suatu cara yang sama sekali bertentangan dengan pengertian tradisional, tetapi selaras dengan Injil. Pengertian alternatif ini menghancurkan kontradiksi yang diduga ada di antara Al-Qur’an dan Injil mengenai kematian Isa.
Sebagai permulaan: Ada perbedaan yang besar ketika membaca pernyataan ini dengan atau tanpa latarbelakangnya. Suatu pernyataan bisa dibaca dengan dua arti yang sama sekali berbeda jika dibaca dengan atau tanpa latarbelakang. Misalnya, pernyataan bahwa ‘Hitler adalah orang gila’ mungkin membawa arti yang berbeda bagi orang yang berbeda. Seorang yang tidak mempunyai pengetahuan sejarah, dan tak pernah mendengar tentang siapa Hitler, mungkin membayangkan sesosok orang dengan air liurnya meleleh dari mulut yang hanya layak untuk ke rumah sakit jiwa! Penafsiran Kitab Suci bisa menjadi liar dan spekulatif jika ia tidak diarahkan oleh latarbelakangnya! Begitu banyak spekulasi liar dan spektakular yang telah dibuat bagi menjelaskan ayat ini!
Berulang-ulang, Al-Qur’an mengabsahkan Injil. Dengan demikian, Injil merupakan latarbelakang bagi ayat ini. Ketika dibaca dengan Injil sebagai latarbelakangnya, maka satu-satunya perkara yang disangkal oleh ayat ini adalah bahwa umat Yahudi telah membunuh dan menyalibkan Isa. Itu saja yang ditolak oleh Al-Qur’an, bahwa umat Yahudi yang membunuh dan menyalibkan Isa. Isa memang dibunuh dan disalibkan, tetapi bukan umat Yahudi yang melakukannya. Umat Yahudi di bawah kekaisaran Romawi tidak mempunyai wewenang untuk mengeksekusi maupun menyalibkan siapapun. Dan penyaliban bukan bentuk eksekusi orang Yahudi, tapi orang Romawi. Keempat-empat Injil mengakui bahwa orang Romawilah yang mengeksekusi dan menyalibkan Isa. Jadi, Al-Qur’an benar secara fakta dan sejarah ketika mengatakan bahwa umat Yahudi tidak membunuh atau menyalibkan Isa. Tetapi ayat ini tidak menafikan bahwa Isa memang dibunuh atau disalib!
Siapa sesungguhnya yang membunuh Isa?
Ini merupakan persoalan perspektif. Al-Qur’an melihat segala sesuatu dari sudut pandang Allah, dan bangsa Yahudi, dari perspektif mereka sendiri. Dari sudut pandang mereka sendiri, memang benar bahwa mereka sepertinya berhasil membunuh Isa. Mereka mengkehendaki kematian Isa dan menyerahkannya kepada orang Romawi. Tetapi, pada akhirnya, atas kehendak siapakah Isa harus mati?
Kedua-dua Alkitab and Al-Qur’an menunjukan keselarasan penuh dalam hal menyangkut persoalan penting ini: kematian Isa adalah kehendak Allah. Umat Yahudi and orang Romawi merupakan alat bagi menggenapi kehendak Allah, sekalipun tanpa mereka menyadarinya, tetapi pada akhirnya, adalah kehendak Allah bahwa Isa harus mati.
إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
Ith qala Allahu ya AAeesa innee mutawaffeeka warafiAAuka ilayya wamutahhiruka mina allatheena kafaroo wajaAAilu allatheena ittabaAAooka fawqa allatheena kafaroo ila yawmi alqiyamati thumma ilayya marjiAAukum faahkumu baynakum feema kuntum feehi takhtalifoona Ali Imran 3 : 55
Ada satu terjemahan oleh Shakir yang berbunyi, “Aku akan mengakhiri waktu hidupmu di bumi.” Ayat ini jelas berbicara tentang kematian dan kebangkitan Isa, yang selaras dengan dengan Perjanjian Baru (lihat juga Surah Maryam 19.33). Dan Allah-lah yang menyebabkan dia mati. Allah-lah yang mengakhiri hidupnya di bumi. Dengan kata lain, menurut Al-Qur’an, kematian Isa adalah kehendak Allah.
Tetapi banyak penterjemah, di dalam kegairahan mereka untuk menyangkal kematian Isa, telah memutar-belitkan artinya dengan menterjemahkan ayat ini sebagai ‘I will take you’ yang secara tidak langsung mengarah kepada pengangkatan. Dengan melakukan seperti itu, mereka telah membuat bagian selanjutnya dari pernyataan itu ‘dan akan mengangkat (atau membangkitkan) kamu kepada-Ku’ menjadi sebuah pengulangan yang tidak berarti. Tetapi terjemahan-terjemahan yang jujur menyatakan bahwa Isa wafat dan Allah-lah yang menyebabkan kematiannya. [Saya tidak mau membuang waktu dan ruangan yang berharga ini untuk membahas spekulasi yang hebat tentang bagaimana Allah akan menyebabkan kematian Isa ketika dia kembali untuk kedua kalinya.] Tidak perlu untuk memutar-belitkan Al-Quran supaya sesuai dengan ajaran tradisional yang mengatakan bahwa Isa tidak wafat.
Inilah kesimpulan dari Al-Qur’an: Bukan umat Yahudi yang menyalibkan Isa, dan malah juga bukan orang Romawi. Isa tidak mati oleh karena kehendak manusia. Allah mati oleh karena kehendak Allah. Allah-lah yang membunuh Isa! Dan di dalam istilah Alkitabiah, Allah-lah yang menyerahkan anak-Nya (Yohanes 3:16). Alkitab sangat jelas tentang poin ini:
Yesaya 53:10, Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia (Al-Masih) dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, …
Lukas 22:22, Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!”
Kisah 2:23, Dia (Isa) yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.
1 Korintus 2:8, Hikmat itu tidak dipahami oleh seorang pun dari antara para penguasa dunia ini, karena seandainya mereka memahaminya, tentu mereka tidak akan menyalibkan Junjungan kita Yang Mulia itu.
Beberapa ayat ini (daripada sekian banyak ayat-ayat yang lain) menunjukkan dengan jelas bahwa kematian Isa bukanlah oleh kehendak manusia, walaupun memang mereka berperan di dalam kematiannya. Ia merupakan kehendak Allah bahwa Isa harus mati, dan penguasa kegelapan dunia ini, tanpa menyadarinya, telah melaksanakan rencana Allah oleh karena kurang pengertian. Kiranya mereka mengerti bahwa kehendak Allah adalah Isa harus mati, mereka tentu tidak akan melakukannya!
Ada sebuah ayat yang menarik di dalam Al-Quran:
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الأرْضِ جَمِيعًا وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا يخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?” Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. QS. al-Mai’dah 5.17
Terjemahan dari Shakir berbunyi seperti ini, “ketika Dia ingin membinasakan Al-Masih, putra Maryam.” Ini menunjukkan bahwa memang mungkin untuk memahaminya dengan cara ini. Tetapi lebih penting, gambaran besar yang diberikan oleh Al-Qur’an dan Alkitab menunjukkan kepada kita dengan jelas bahwa memang merupakan kehendak-Nya untuk membinasakan Al-Masih, putra Maryam. Dan tidak ada kuasa yang bisa menghalangi kejadian ini.
Dari perspektif umat Yahudi, bagi mereka, kelihatannya seperti mereka berhasil membunuh Al-Masih, dan mereka memang telah melakukannya. Itulah yang menjadi alasan mereka bermegah. Tetapi itu bukan akhir dari cerita karena tanpa mereka ketahui, Isa telah dibangkitkan.
وَالسَّلامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا
Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali “. QS. Maryam (19) : 33
Dia dibangkitkan dari kematian supaya hidup kembali! Jadi, apakah orang Yahudi telah membunuh Isa? Jawaban dari pertanyaan ini bisa menjadi ‘ya’ atau ‘tidak’, tergantung kita melihatnya dari sudut pandang yang mana. Dari perspektif umat Yahudi, ya, mereka telah membunuh dan menyalibkan Al-Masih, dan mereka mengira itu adalah akhir dari cerita. Memang tampak seperti itu bagi mereka. Tetapi dari perspektif Allah, atau dari perspektif orang ketiga, jawabannya adalah ‘tidak’ oleh karena kebangkitan! Bagi mereka, sepertinya mereka telah membunuhnya. Tetapi Allah membangkitkan dia hidup kembali! (An-Nisa 4.158) Dan Al-Qur’an melihat kejadian ini dari sudut pandang ini, dan oleh itu, mengolok-olokan umat Yahudi yang mengira mereka telah berhasil membunuh Isa.
Ini sesungguhnya adalah kuasa, hikmat dan kebijaksanaan Allah!
Catatan kaki: Saya menyampaikan pengertian alternatif ini bagi umat Nasrani dan umat Muslim. Ketika kita mengerti bahwa ayat tunggal ini tidak menyangkal kematian dan penyaliban Isa dengan cara apapun, saya percaya bahwa satu daripada hambatan terbesar untuk mencapai perdamaian di antara dua komunitas ini akan berakhir.
Tafsiran rohanimu dahsyat, Kang!
Aku berharap rohani tidak tunduk pd logika.
Semoga Tuhan tetap menyertaimu dlm berkarya!
Salam Dahsyat!
TQ! Harapanku: Peace upon Muslims and Christians!
Yes! Yes!
But Jews?
I am hopping!
All about peace,
And peace shoul be unto all,
Becouse peace can not be devided!
Salam Damai!
Kang Bin!
Biar ramean dikit,
Kasi daftar penanggap, Kang!
Pan ada fasilitasnya di Widget
Salam!
Jews too? Yes, yes… of course! I got a brother and friend who is a Jew, and his name is Isa al-Masih or Jesus Christ! The only Jew I know so far!
Hah!
What a shame of me!
You are trully right Brat!
Dan tq!
Daftar komtator dah nongol.
Peace!
Ah! Masih awaiting lagi!
Biasanya sesama WP dua kali aja dijegat.
Entah lah!
Salam!
Good job brooo…lanjutkan !!!!
DOWNLOAD E-BOOK AKHIR ZAMAN GRATIS
http://www.penuai.wordpress.com
Semoga Perdamaian tercipta bagi Islam, Kristen dan Yahudi
Pemikiran saya juga kesini, namun saya belum sempat merisetnya….alhamdulillah, terima kasih telah memulainya
@Saudaraku Maren, terima kasih telah membawaku kesini
@all kristen, jika ada kesalahan di artikel blogku, saya mohon maaf, insya allah, akan saya perbaiki di artikel berikutnya
Salam Damai(56,26)
al waaqi’ah 056:026
illa qiilan salaaman salaaman
kecuali ucapan salam salam
@qarrobin, thanks for ur encouragement! Memang ini Mission Impossible, tapi inilah sebintik (atau setetes) sumbangan saya pada dunia ini, untuk mengurangi sedikit prasangka dan kebencian antar-umat Ibrahim, sebelum akhir hayat saya… meskipun dimaki banyak orang!
Aku sependapat,
Bahwa damai hrs lebih di depan. Segala perbedaan adalah wajar. Dan biarlah perbedaan itu semakin besar atau kita perbesar sejauh di dalam damai. Kemuliaan hanya dapat terlihat dari perbedaan yg sangat kontras, bukan dari kesamaan atau kemiripan-kemirioannya.
Salam Damai!
Amin and Amen! Kita semua harus “agree to disagree”. Tapi dalam hal Injeel dan Al-Quran saya benar-benar tidak melihat adanya perbedaan yang berarti yang membenarkan perselisihan yang kita lihat dalam kenyataan antar dua umat Allah ini.
Penyebutan Yesus tentang “misinya” yang akan dibangkitkan “pada hari yang ketiga” dirancukan dengan ide-ide tentang Yesus sendiri yang dibangkitkan dari orang mati “pada hari yang ketiga” lalu naik ke langit dan duduk di sebelah kanan Allah. Akan tetapi Hosea 6 :2 ini jelas-jelas berbicara “komunitas” yang dipimpin oleh Yesus. Lagi pula yang dimaksud Hosea dan Yesus bukanlah hari secara harfiah yang terdiri dari dua puluh empat jam, tetapi adalah sebuah etape atau fase di dalam mewujudkan Kerajaan Allah di muka bumi. Yesus menggunakan frasa ini semacam “kode apokaliptik” untuk mengungkapkan pemahaman-Nya atas periode akhir menjelang tegaknya kerajaan Allah.
Yesus menggenapi nubuat para nabi bani Israel untuk membangkitkan kerajaan Allah di muka bumi. Karena itu Dia harus menuntaskan tugasnya untuk mewujudkan kerajaan Allah di muka bumi, sebelum dia wafat.
Dia adalah mesias yang berhasil, bukan mesias yang gagal.
to satria …
mengenai “pada hari yang ketiga”
ada yang menarik di sini…
youtube.com/view_play_list?p=E1553875A809D733&playnext=1&playnext_from=PL&v=Ri9pm0vtm3A&rclk=pt0
youtube.com/view_play_list?p=E1553875A809D733&playnext=1&playnext_from=PL&v=I2-Cmb7-Mn0&rclk=pt1
youtube.com/view_play_list?p=E1553875A809D733&playnext=1&playnext_from=PL&v=xCX22rLElT0&rclk=pt2
tetapi di depan link link tersebut harap ditambahkan http://www. supaya bisa nyambung…
semoga tafsiran anda benar ……. karena kalau salah laknat Alloh menyertai anda . aku yang masih labil, bingung, bimbang , ragu, bodoh, tapi haqul yakin …..laa illaa ha illalloh………..
isa al masih diserupakan wafat,,, barangsiapa yg menyakini yg disalib bukan isa as berarti dia menyakini yahudi pahlawan karena telah berhasil menyalib nabi palsu
isa almasih tidak dibunuh dengan disalib hanya
diserupakan mati!
Novita, boleh jelaskan apa tujuannya Isa diserupakan mati?
Silahkan berkunjung ke situs kami di http://studycycle.net
Kami berfokus pada mengurai kesalahpahaman dan tuduhan terhadap Alkitab (khususnya) dan iman umat Al Masih (umumnya).
Syahadat kami adalah
>>laa ilaha ilallah al ahad (1 kor 8:4) => tidak ada ilah selain Allah yang Esa
>>Isa Al Masih Kalamullah
Isa adalah Al MasihNya dan Kalam Ilahi Allah yang nuzul menjadi manusia
Kesalahpahaman dan tuduhan yang telah kami uraikan ada di http://www.studycycle.net/2010/01/index.html termasuk logika mengenai trinitas dan kodrat keilahian Al Masih Isa
AL-QURAN DAN INJIL SETUJU – ISA AL-MASIH TERSALIB
Inilah firman Allah pada Isa Al-Masih, “…Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu . . .” (Qs. 3:55).
Aneh bukan? Namun Injil mengiakan Qs 3:55. “[Mereka] menyalibkan dia . . . Yesus [Isa Al-Masih] berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-nya” ( Matius 27:35, 50).
Semua ahli sejarah setuju bahwa Isa Al-Masih disalib. Yang masih belum dimengerti adalah mengapa Ia disalib.
Nabi besar Yesaya menulis mengenai penyaliban-Nya ratusan tahun sebelum terjadi. Firman Allah melalui Nabi Yesaya, ” . . . Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita . . . TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian” ( Yesaya 53:5,6).
Isa Al-Masih tersalib agar dapat menanggung dosa manusia. Kita perlu percaya bahwa Ia tersalib bagi kita, maka kita akan dilepaskan dari hukuman dosa. Kita akan diselamatkan!
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Qs. 7:16)
Injil menceriterakan usaha Iblis untuk menghalang-halangi Isa Al-Masih untuk mati tersalib. Jika Isa tidak mati tersalib, Ia tidak dapat berkata, “Aku inilah Jalan.” Sehingga pada saat masih bayi, Iblis mengusahakan supaya Raja Herodes membunuh-Nya (Matius 2:13-18). Iblis juga berusaha membinasakan Isa Al-Masih dengan pencobaan di padang gurun (Matius 4:1-11).
Akhirnya, Iblis memperalat murid utama-Nya, Rasul Petrus. Saat Petrus menghalangi Isa Al-Masih dari penyaliban, Dia menegur Petrus dengan berkata, “Enyahlah Iblis . . . . . Engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah . . . ” (Matius 16:23)
Iblis tidak hanya menyesatkan manusia dari menerima Isa Al-Masih sebagai “Jalan.” Iblis juga berusaha menghalangi Isa Al-Masih dari mati tersalib bagi manusia. Tanpa penyaliban-Nya, Isa Al-Masih tidak dapat mengatakan, “Aku inilah jalan.”
Wassalam!